AL - ISRA' AYAT 82

AL - ISRA' AYAT 82

MARI MENYUMBANG UNTUK SAHAM AKHIRAT

RAWATAN AS - SUNNAH

My photo
Senawang, Seremban, Daulah Islamiah, Malaysia
Dan katakanlah:Telah datang kebenaran (Islam), dan hilang lenyaplah perkara yang salah (kufur dan syirik); sesungguhnya yang salah itu sememangnya satu perkara yang tetap lenyap.Hubungi @ SMS saya di talian 017-4150340.

Ukhwah Islamiyyah

Menebar Keangkuhan Menuai Kehinaan..



Masih berkaca pada untaian nasihat Luqman Al-Hakim kepada anaknya. Menjelang akhir nasihatnya, Luqman melarang sang anak dari sikap takabur dan memerintahkannya untuk merendahkan diri (tawadhu’). Luqman berkata kepada anaknya:

وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِي اْلأَرْضِ مَرَحاً إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتاَلٍ فَخُوْرٍ

“Dan janganlah engkau memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong), dan janganlah berjalan dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang angkuh dan menyombongkan diri.” (Luqman: 18)

Demikian Luqman melarang untuk memalingkan wajah dan bermuka masam kepada orang lain karena sombong dan merasa dirinya besar, melarang dari berjalan dengan angkuh, sombong terhadap nikmat yang ada pada dirinya dan melupakan Dzat yang memberikan nikmat, serta kagum terhadap diri sendiri. Karena Allah tidak menyukai setiap orang yang menyombongkan diri dengan keadaannya dan bersikap angkuh dengan ucapannya. (Taisirul Karimir Rahman hal. 649)

Pada ayat yang lain Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang pula:

وَلاَ تَمْشِ فِي اْلأَرْضِ مَرَحاً إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ اْلأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِباَلَ طُوْلاً

“Dan janganlah berjalan di muka bumi dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mencapai setinggi gunung.” (Al-Isra`: 37)

Demikianlah, seseorang dengan ketakaburannya tidak akan dapat mencapai semua itu. Bahkan ia akan menjadi seorang yang terhina di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan direndahkan di hadapan manusia, dibenci, dan dimurkai. Dia telah menjalani akhlak yang paling buruk dan paling rendah tanpa menggapai apa yang diinginkannya. (Taisirul Karimir Rahman, hal. 458)

Kehinaan inilah yang akan dituai oleh orang yang sombong. Dia tidak akan mendapatkan apa yang dia harapkan di dunia maupun di akhirat.

‘Amr bin Syu’aib meriwayatkan dari ayahnya dari kakeknya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:


يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُوْنَ يَوْمَ الْقِياَمَةِ أَمْثاَلَ الذَّرِّ فِيْ صُوْرَةِ الرِّجاَلِ، يَغْشاَهُمُ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكاَنٍ، يُسَاقُوْنَ إِلَى سِجْنٍ مِنْ جَهَنَّمَ يُسَمَّى بُوْلَسَ، تَغْلُوْهُمْ ناَرٌ مِنَ اْلأَنْياَرِ، وَيُسْقَوْنَ مِنْ عُصَارَةِ أَهْلِ النَّارِ طِيْنَةِ الْخَباَلِ

“Orang-orang yang sombong dikumpulkan pada hari kiamat seperti semut-semut kecil dalam bentuk manusia, diliputi oleh kehinaan dari segala arah, digiring ke penjara di Jahannam yang disebut Bulas, dilalap oleh api dan diberi minuman dari perasan penduduk neraka, thinatul khabal.1” (HR. At-Tirmidzi, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 434)

Bahkan seorang yang sombong terancam dengan kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala . Demikian yang kita dapati dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana yang disampaikan oleh seorang shahabat mulia, ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma:


مَنْ تَعَظَّمَ فِي نَفْسِهِ أَوِ اخْتَالَ فِي مِشْيَتِهِ لَقِيَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ عَلَيْهِ غَضْبَانُ

“Barangsiapa yang merasa sombong akan dirinya atau angkuh dalam berjalan, dia akan bertemu dengan Allah dalam keadaan Allah murka terhadapnya.” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 427)

Kesombongan (kibr) bukanlah pada orang yang senang dengan keindahan. Akan tetapi, kesombongan adalah menentang agama Allah Subhanahu wa Ta’ala dan merendahkan hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala .

Demikian yang dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala beliau ditanya oleh ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, “Apakah sombong itu bila seseorang memiliki hullah2 yang dikenakannya?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Tidak.” “Apakah bila seseorang memiliki dua sandal yang bagus dengan tali sandalnya yang bagus?” “Tidak.” “Apakah bila seseorang memiliki binatang tunggangan yang dikendarainya?” “Tidak.” “Apakah bila seseorang memiliki teman-teman yang biasa duduk bersamanya?” “Tidak.” “Wahai Rasulullah, lalu apakah kesombongan itu?” Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:

سَفَهُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Meremehkan kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 426)


Tak sedikit pun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membuka peluang bagi seseorang untuk bersikap sombong. Bahkan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa memerintahkan untuk tawadhu’. ‘Iyadh bin Himar radhiyallahu ‘anhuma menyampaikan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلاَ يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

“Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap tawadhu’ hingga tidak seorang pun menyombongkan diri atas yang lain dan tak seorang pun berbuat melampaui batas terhadap yang lainnya.” (HR. Muslim no. 2865)

Berlawanan dengan orang yang sombong, orang yang berhias dengan tawadhu’ akan menggapai kemuliaan dari sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana yang disampaikan oleh shahabat yang mulia, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ للهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ

“Dan tidaklah seseorang bersikap tawadhu’ karena Allah, kecuali Allah akan mengangkatnya.” (HR. Muslim no. 2588)

Tawadhu’ karena Allah Subhanahu wa Ta’ala ada dua makna. Pertama, merendahkan diri terhadap agama Allah, sehingga tidak tinggi hati dan sombong terhadap agama ini maupun untuk menunaikan hukum-hukumnya. Kedua, merendahkan diri terhadap hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan karena takut terhadap mereka, ataupun mengharap sesuatu yang ada pada mereka, namun semata-mata hanya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kedua makna ini benar. Apabila seseorang merendahkan diri karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengangkatnya di dunia dan di akhirat. Hal ini merupakan sesuatu yang dapat disaksikan dalam kehidupan ini. Seseorang yang merendahkan diri akan menempati kedudukan yang tinggi di hadapan manusia, akan disebut-sebut kebaikannya, dan akan dicintai oleh manusia. (Syarh Riyadhish Shalihin, 1/365)

Tak hanya sebatas perintah semata, kisah-kisah dalam kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam banyak melukiskan ketawadhu’an beliau. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang manusia yang paling mulia di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Meski demikian, beliau menolak panggilan yang berlebihan bagi beliau. Begitulah yang dikisahkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu tatkala orang-orang berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai orang yang terbaik di antara kami, anak orang yang terbaik di antara kami! Wahai junjungan kami, anak junjungan kami!” Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam pun berkata:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ عَلَيْكُمْ بِقَوْلِكُمْ وَلاَ يَسْتَهْوِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ، إِنِّي لاَ أُرِيْدُ أَنْ تَرْفَعُوْنِي فَوْقَ 
مَنْزِلَتِي الَّتِي أَنْزَلَنِيهِ اللهُ تَعَالَى، أَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

“Wahai manusia, hati-hatilah dengan ucapan kalian, jangan sampai kalian dijerumuskan oleh syaitan. Sesungguhnya aku tidak ingin kalian mengangkatku di atas kedudukan yang diberikan oleh Allah ta’ala bagiku. Aku ini Muhammad bin ‘Abdillah, hamba-Nya dan utusan-Nya.” (HR. An-Nasa`i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah, dikatakan dalam Ash-Shahihul Musnad fi Asy-Syamail Muhammadiyah no. 786: hadits shahih menurut syarat Muslim)

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengisahkan:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزُوْرُ اْلأَنْصَارَ فَيُسَلِّمُ عَلَى صِبْيَانِهِمْ وَيَمْسَحُ بِرُؤُوْسِهِمْ وَيَدْعُو لَهُمْ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam biasa mengunjungi orang-orang Anshar, lalu mengucapkan salam pada anak-anak mereka, mengusap kepala mereka dan mendoakannya.” (HR An. Nasa`i, dikatakan dalam Ash-Shahihul Musnad fi Asy-Syamail Muhammadiyah no. 796: hadits hasan)

Ketawadhu’an Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ini menjadi gambaran nyata yang diteladani oleh para shahabat. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pernah melewati anak-anak, lalu beliau mengucapkan salam pada mereka. Beliau mengatakan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُهُ

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam biasa melakukan hal itu.” (HR. Al-Bukhari no. 6247 dan Muslim no. 2168)

Memberikan salam kepada anak-anak ini dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan diikuti pula oleh para shahabat beliau radhiyallahu ‘anhum. Hal ini merupakan sikap tawadhu’ dan akhlak yang baik, serta termasuk pendidikan dan pengajaran yang baik, serta bimbingan dan pengarahan kepada anak-anak, karena anak-anak apabila diberi salam, mereka akan terbiasa dengan hal ini dan menjadi sesuatu yang tertanam dalam jiwa mereka. (Syarh Riyadhish Shalihin, 1/366-367)

Pernah pula Abu Rifa’ah Tamim bin Usaid radhiyallahu ‘anhu menuturkan sebuah peristiwa yang memberikan gambaran ketawadhu’an Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam serta kasih sayang dan kecintaan beliau terhadap kaum muslimin:

اِنْتَهَيْتُ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَخْطُبُ، فَقُلْتُ : يَا رَسُولَ اللهِ، رَجُلٌ غَرِيْبٌ جَاءَ يَسْأَلُ عَنْ دِيْنِهِ لاَ يَدْرِي مَا دِيْنُهُ؟ فَأَقْبَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَرَكَ خُطْبَتَهُ حَتَّى انْتَهَى إِلَيَّ فَأُتِيَ بِكُرْسِيٍّ، فَقَعَدَ عَلَيْهِ، وَجَعَلَ يُعَلِّمُنِي مِمَّا عَلَّمَهُ اللهُ، ثُمَّ أَتَى خُطْبَتَهُ فَأَتَمَّ آخِرَهَا

“Aku pernah datang kepada Rasulullah ketika beliau berkhutbah. Lalu aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, seorang yang asing datang padamu untuk bertanya tentang agamanya, dia tidak mengetahui tentang agamanya.’ Maka Rasulullah pun mendatangiku, kemudian diambilkan sebuah kursi lalu beliau duduk di atasnya. Mulailah beliau mengajarkan padaku apa yang diajarkan oleh Allah. Kemudian beliau kembali melanjutkan khutbahnya hingga selesai.” (HR. Muslim no. 876)

Begitu banyak anjuran maupun kisah kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang melukiskan ketawadhu’an beliau. Demikian pula dari para shahabat radhiyallahu ‘anhum. Tinggallah kembali pada diri ayah dan ibu. Jalan manakah kiranya yang hendak mereka pilihkan bagi buah hatinya?

Mengajarkan kerendahan hati hingga mendapati kebahagiaan di dua negeri, ataukah menanamkan benih kesombongan hingga menuai kehinaan di dunia dan akhirat?

Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Catatan kaki:

1 Thinatul khabal adalah keringat atau perasan dari penduduk neraka.
2 Hullah adalah pakaian yang terdiri dari dua potong baju.
Sumber: http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=284
akhwat.web.id
Posted on 11:27 AM by Kamarol Azli Bahari and filed under | 0 Comments »

Kisah Pahlawan Neraka..



Riwayat ini telah dirawikan oleh Lukman Hakim...

Suatu hari satu pertempuran telah berlaku di antara pihak Islam dengan pihak Musyrik. Kedua-dua belah pihak berjuang dengan hebat untuk mengalahkan antara satu sama lain. Tiba saat pertempuran itu diberhentikan seketika dan kedua-dua pihak pulang ke markas masing-masing.

Di sana Nabi Muhammad S.A.W dan para sahabat telah berkumpul membincangkan tentang pertempuran yang telah berlaku itu. Peristiwa yang baru mereka alami itu masih terbayang-bayang di ruang mata. Dalam perbincangan itu, mereka begitu kagum dengan salah seorang dari sahabat mereka iaitu, Qotzman. Semasa bertempur dengan musuh, dia kelihatan seperti seekor singa yang lapar membaham mangsanya. Dengan keberaniannya itu, dia telah menjadi buah mulut ketika itu.

"Tidak seorang pun di antara kita yang dapat menandingi kehebatan Qotzman," kata salah seorang sahabat.
Mendengar perkataan itu, Rasulullah pun menjawab, "Sebenarnya dia itu adalah golongan penduduk neraka."

Para sahabat menjadi hairan mendengar jawapan Rasulullah itu. Bagaimana seorang yang telah berjuang dengan begitu gagah menegakkan Islam boleh masuk dalam neraka. Para sahabat berpandangan antara satu sama lain apabila mendengar jawapan Rasulullah itu.

Rasulullah sedar para sahabatnya tidak begitu percaya dengan ceritanya, lantas baginda berkata, "Semasa Qotzman dan Aktsam keluar ke medan perang bersama-sama, Qotzman telah mengalami luka parah akibat ditikam oleh pihak musuh. Badannya dipenuhi dengan darah. Dengan segera Qotzman meletakkan pedangnya ke atas tanah, manakala mata pedang itu pula dihadapkan ke dadanya. Lalu dia terus membenamkan mata pedang itu ke dalam dadanya."

"Dia melakukan perbuatan itu adalah kerana dia tidak tahan menanggung kesakitan akibat dari luka yang dialaminya. Akhirnya dia mati bukan kerana berlawan dengan musuhnya, tetapi membunuh dirinya sendiri. Melihatkan keadaannya yang parah, ramai orang menyangka yang dia akan masuk syurga. Tetapi dia telah menunjukkan dirinya sebagai penduduk neraka."

Menurut Rasulullah S.A.W lagi, sebelum dia mati, Qotzman ada mengatakan, katanya, "Demi Allah aku berperang bukan kerana agama tetapi hanya sekadar menjaga kehormatan kota Madinah supaya tidak dihancurkan oleh kaum Quraisy. Aku berperang hanyalah untuk membela kehormatan kaumku. Kalau tidak kerana itu, aku tidak akan berperang."
Posted on 11:55 AM by Kamarol Azli Bahari and filed under | 0 Comments »

Rahsia Personaliti Dari Tarikh Lahir - Ilmu Primitif Perosak Akidah!!

 
Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui . (Al-An am : 97).

Bismillahirrahmanirrahim....Selawat dan salam buat kekasih junjungan Rasulullah s.a.w... 

Sekarang ini satu fenomena baru sedang melanda umat Islam di Malaysia iaitu pendedahan rahsia personaliti serta potensi diri melalui formula matematik terhadap tarikh lahir. Dari hari ke hari ia semakin mendapat sambutan. Selain itu, laman komuniti facebook.com juga semakin rancak menyediakan kuiz-kuiz tenung nasib dan rahsia personaliti. Sebelum itu, telah banyak disebarluaskan rahsia-rahsia personaliti berdasarkan zodiak, hari kelahiran, kedudukan dalam adik-beradik, warna kegemaran, cara berjalan, bentuk wajah, bentuk jari, kedudukan tahi lalat dan pelbagai lagi yang digemari oleh masyarakat kita.

Gmbr Teori Zodiak


Tidak lain tidak bukan itu semua hanyalah perbuatan sia-sia lagi haram malah boleh mengundang kerosakkan iman bila ia dipercayai. Perkara-perkara yang disebut itu adalah termasuk meramal yang mana ia telah diharamkan. Sumber yang mengharamkannya banyak sekali.

Dalam Al-Quran, Surah Al-Maaidah, ayat 90, Allah berfirman yang maksudnya, “Wahai orang-orang yang beriman! Bahawa sesungguhnya arak, dan judi, dan pemujaan berhala, dan mengundi nasib dengan batang-batang anak panah, adalah (semuanya) kotor (keji) dari perbuatan Syaitan. Oleh itu hendaklah kamu menjauhinya supaya kamu berjaya.”

Imam Muslim dalam kitab Shahih Muslim, meriwayatkan bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda : “Barangsiapa mendatangi ‘arraaf’ (tukang ramal) kepadanya, tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh hari.”
Abu Dawud pula meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi صلى الله عليه وسلم , baginda bersabda: “Barangsiapa yang mendatangi kahin (dukun) dan membenarkan apa yang ia katakan, sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam.”

Dari Imran bin Hushain radhiallahu anhu, beliau berkata, bahawa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Bukan termasuk golongan kami yang melakukan atau meminta tathayyur (menentukan nasib sial berdasarkan tanda-tanda benda, burung dan lain-lain), yang meramal atau yang meminta diramalkan, yang menyihir atau meminta disihirkan dan barangsiapa mendatangi peramal dan membenarkan apa yang ia katakan, maka sesungguhnya ia telah kafir terhadap wahyu yang diturunkan kepada Muhammad صلى الله عليه وسلم .” (Hadith Riwayat Al-Bazzaar, dengan sanad jayyid).
 
Tenung Nasib : Haram di sisi Islam !!

Ia Benar, Ada Persamaan Dengan Diri Saya??

Larangan-larangan yang disebut di atas telah banyak kali diabaikan oleh mereka yang mempercayai pendedahan rahsia-rahsia personaliti itu. Ini kerana bila mereka mencuba-cuba sekadar suka-suka, rupanya pendedahan rahsia-rahsia itu banyak benar dan sama dengan dirinya. Maka itulah mereka terus meminati perkara begini.

Kebenarannya kadang-kadang sukar dinafikan, namun sedarlah bahawa diri kita boleh mengetahui sendiri bagaimana adanya diri kita tanpa melihat kesemua faktor ramalan itu. Sentiasalah bermuhasabah diri serta bertanya pendapat rakan-rakan terhadap personaliti dan potensi diri kita untuk meningkatkan dan memperbaiki diri.

Senarai Zodiak yg terus jd rujukan

Syaitan Mencuri Dengar Berita-berita Langit

Di dalam Al-Quran, terdapat beberapa ayat yang menceritakan bahawa suatu ketika dahulu, syaitan dapat mencuri dengar berita-berita langit termasuklah rahsia masa depan yang disembunyikan daripada pengetahuan jin dan manusia. Boleh jadi, rahsia-rahsia yang dibuka kepada manusia daripada faktor-faktor ramalan itu adalah ilmu kuno / primitif yang diperkenal oleh para Syaitan yang pernah mendengarnya sebelum ini dengan ditokok-tambah bagi meyakinkan manusia kepada kebenarannya sedangkan tujuan asal mereka adalah untuk menyesatkan manusia.

Dan demi sesungguhnya! Kami telah menjadikan di langit: bintang-bintang (yang berbagai bentuk dan keadaan) serta kami hiasi langit itu bagi orang-orang yang melihatnya. [16] Dan Kami pelihara (urusan) langit itu dari (masuk campur) tiap-tiap Syaitan yang kena rejam. [17] Kecuali Syaitan yang curi mendengar percakapan (malaikat di langit), maka ia diburu dan diikuti (dengan rejaman) api yang menyala, yang nyata kelihatan. [18] (Maksud ayat 16 hingga 18 Surah Al-Hijr)

Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat (pada penglihatan penduduk bumi) dengan hiasan bintang-bintang. [6] Dan (Kami pelihara urusan langit itu) dengan serapi-rapi kawalan dari (masuk campur) tiap-tiap Syaitan yang derhaka; [7](Dengan itu) mereka tidak dapat memasang telinga mendengar (percakapan malaikat) penduduk langit, dan mereka pula direjam (dengan api) dari segala arah dan penjuru, [8] Untuk mengusir mereka; dan mereka pula beroleh azab seksa yang tidak putus-putus. [9] Kecuali sesiapa di antara Syaitan-syaitan itu yang curi mendengar mana-mana percakapan (malaikat), maka ia diburu dan diikuti (dengan rejaman) api yang menjulang lagi menembusi. [10] (Maksud ayat 6 hingga 10, Surah As-Soffat)

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radiallohu’anhuma, beliau berkata “Dahulu syaitan-syaitan itu memiliki tempat-tempat berdiam di langit. Mereka mendengarkan wahyu. Dan ketika itu bintang-bintang tidak mengejar mereka dan syaitan-syaitan itu tidak dilempari. Ketika mereka mendengarkan wahyu, mereka turun ke bumi dan menambahkan kalimat yang mampu mereka dengar itu dengan sembilan (kalimat yang lain dari diri mereka). Adapun setelah Rasulullah صلى الله عليه وسلم diutus, maka ketika syaitan-syaitan ini mencapai tempat berdiamnya, suluh api pun mendatanginya dan tidak meleset darinya sehingga membakarnya. Syaitan-syaitan itu lalu mengadu kepada Iblis - semoga Allah melaknatnya.

Iblis berkata, ‘Ini disebabkan adanya perkara yang baru.’ Lalu ia mengutus tenteranya, dan mereka mendapati Rasulullah صلى الله عليه وسلم berdiri sedang solat di antara dua gunung pohon kurma. (Dua batang pohon kurma). Lantas mereka kembali kepada iblis untuk mengabarkan hal tersebut. Iblis berkata, ‘Inilah dia perkara yang baru itu.’ ” (Dari Ath-Thabari)

Ketahuilah bahawa rahsia-rahsia hidup kita telah tertutup rapi, hanya diketahui oleh Allah S.W.T. Kalau pun ada syaitan-syaitan yang dapat mendengarnya, ianya hanyalah pengetahuan primitif kerana selepas baginda Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم diutus, mereka tidak dapat lagi mendengarnya. Dan kalaupun ada di antara mereka yang dapat mendengarnya, mereka tidak akan mengkhabarkan kepada manusia dengan betul kerana mereka bertujuan hidup untuk menyesatkan kita.

Imam Bukhari ra telah meriwayatkan di dalam kitab sahihnya bahawa Qatadah, seorang ulama tabien yang terkenal telah berkata : Allah telah menciptakan bintang-bintang untuk tiga perkara iaitu perhiasan langit, pelempar syaitan dan sebagai tanda-tanda penunjuk arah maka barangsiapa yang mentafsirkan bintang-bintang selain dari tiga perkara ini maka ianya adalah salah dan sia-sia iaitu mensia-siakan nasibnya serta memaksa dirinya dengan sesuatu yang dia tidak mempunyai ilmu untuk mengetahuinya.

Mempelajari ilmu bintang seperti ilmu falaq, ilmu kaji bumi dan astrologi untuk tujuan kebaikan bagi mendapat maklumat yang berguna bagi keselamatan manusia dan faedah kepada manusia dari sudut ilmu pengetahuan yang membawa manfaat tidaklah salah. Tetapi mempelajari ilmu astrologi untuk tujuan horoskop dan meramal nasib maka hukumnya ialah haram dan berdosa.

Saya menyeru agar setiap dari kita yang beraqidah Islam memuhasabah diri dan berhati-hati dalam setiap perkara yang kita lakukan, terutama sekali yang berkaitan dengan iman dan islam. Bertaubatlah dan kembali kepada syariat islam. Lihatlah dunia ini dengan neraca islam yang sebenar-benarnya, nescaya kita akan beroleh keredhaan Allah S.W.T. di dunia mahupun di akhirat kelak.

Diambil dan diolah semula, sumber : http://el-ilmy.net/
Posted on 3:41 PM by Kamarol Azli Bahari and filed under | 0 Comments »

UJUB Zaman Moden



“Dan tidaklah seseorang bersikap tawadhu’ karena Allah, kecuali Allah akan mengangkatnya.” (HR. Muslim no. 2588)

Kita selalu dengar tentang ujub. Ujub adalah suatu penyakit hati yang bermaksud hairan akan diri sendiri (TERPESONA DENGAN KEBAIKAN DIRI). Ujub merupakan titik tolak kepada penyakit hati yang lebih besar seperti riyak (menunjuk-nunjuk) dan takabbur (membesarkan diri sendiri).

Sifat-sifat ini tidak layak ada pada manusia. Hanya Allah SWT sahaja yang layak memiliki sifat ini kerana Allah-lah yang mencipta sekalian alam dan pemilik segala kekuatan. Maka, tidak salah bagi Allah SWT untuk merasakan diri-Nya hebat, menunjuk-nunjuk kehebatan-Nya, dan mengagungkan diri-Nya.

Manusia yang ujub merasakan dirinya hebat. Contohnya, seseorang itu berasa ujub apabila dia berdoa lebih lama daripada orang lain, berasa ujub apabila sujud lebih lama daripada orang lain, berasa ujub apabila sedekah lebih banyak daripada orang lain. Mudah cerita, bisikan yang terlintas di hati berbunyi seperti "Uishh... aku sujud lebih lama daripada dia...".

Perkembangan teknologi di zaman moden ini berkembang dengan pesat. Perasaan ujub ini juga mengalir mengikut aliran arus semasa. Penyakit hati ini akan meresap bersama-sama pesakit dan mengikuti perkembangan teknologi. Berikut merupakan sedikit sebanyak contoh-contoh ujub zaman moden...

1. Blog dan Followers
Rasa diri kita hebat apabila ramai followers. Ribuan atau ratusan followers menyebabkan kita rasa diri kita hebat. Tak salah untuk kita berasa seronok dengan ramainya followers. Tapi seronok atas dasar apa? Seronok kerana dapat mencurahkan ilmu kepada ribuan atau ratusan followers atau seronok kerana melihat JUMLAH yang banyak?

2. Like di Facebook
Post status kat wall. Lepas tu ramai pula yang 'like'. Bila dah ramai yang like, mulalah rasa diri tu hebat dan rasa syok sekejap. Awas! Tak salah nak rasa gembira apabila orang lain suka apa yang kita lakukan, tapi janganlah sampai merasa hairan akan diri sendiri

3. Komen di Facebook
Mungkin juga kita akan rasa ujub apabila ramai yang memberikan tindakbalas yang memberangsangkan pada post kita di facebook. Bila ramai sangat, mungkin bibit-bitit perasaan ujub akan mula lahir.

4. Komen Gambar di Facebook
Perkara ni mungkin berlaku pada lelaki yang kacak dan perempuan yang cun sahaja. Apabila cun atau kacak, ramailah yang komen. Tak kurang juga yang puji. Bila dah banyak sangat terima pujian, mulalah rasa semacam dan syok pada pujian tu. Maka, perasaan ujub pun senang-senang boleh diterbitkan.

6. Ramainya Kawan atau Peminat di Facebook

Jumlah sekali lagi memainkan peranan penting bagi syaitan untuk menghasut manusia untuk berasa ujub. Ramai rakan maya di facebook juga membolehkan perasaan ujub diterbitkan. Itu baru kawan. Apa lagi peminat artis yang mencecah jumlah ratusan ribu, malahan jutaan orang. Apabila ramai orang yang meminati artis tersebut, mungkin perasaan ujub akan muncul. Hati-hati!

7. Berdakwah di Facebook
Mungkin ramai kawan kita yang merapu di Facebook. Sebagai orang yang merasa dirinya wajib untuk berdakwah, maka Facebook dijadikan medan untuk berdakwah di tengah-tengah rakan Facebook yang banyak merapu. Maka, jadilah kita orang yang terpencil, kerana tidak merapu, sedangkan yang lain banyak yang merapu. Apa yang dibimbangkan di sini, apabila kita berdakwah, kita turut akan berasa hairan akan diri sendiri. Awas, wahai da'ie!

Jadi, awaslah!

Semoga kita dilindungi Allah daripada penyakit-penyakit hati ini. Amin Ya Rabb...
Posted on 1:04 PM by Kamarol Azli Bahari and filed under | 0 Comments »

Jika benar Gempa / Tsunami di Jepun Petanda Akhir ??


Firman Allah swt buat renungan atas bala dan musibah yang menimpa manusia:

“Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman.” (QS. Al Qhashash, 28 : 59)

FirmanNya lagi:
“Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Hud : 117)

FirmanNya lagi:
“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nisaa : 147)

FirmanNya lagi:
“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. Al Isra, 17 : 16)

FirmanNya lagi:

“Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).” (QS. Al Isra, 17 : 58)

FirmanNya lagi:
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kamu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari dosa-dosamu.” (QS. As Syura, 42 : 30)

FirmanNya lagi:
“Dan Allah Telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; Karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (QS. An-Nahl, 16 : 112)

FirmanNya lagi:
“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan? Yaitu neraka Jahannam; mereka masuk kedalamnya; dan Itulah seburuk-buruk tempat kediaman.” (QS. Ibrahim, 14 : 28-29)

FirmanNya lagi:
“Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan dimuka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat yang diderita oleh orang-orang yang sebelum mereka? Orang-orang itu lebih kuat dri merka,mereka telah mengolah bumi dan memakmurkannya lebih banyak dari apa yang mereka makmurkan.Dan telah datang kepada mereka Rasul-rasul mereka dengan membawa keterangan dan bukti-bukti yang nyata.Maka Allah sekali-kali tidak berlaku dzalim kepada mereka, tetapi merekalah yang berlaku dzalim terhadap diri mereka. Kemudian akibat orang-orang yang melakukan kedurhakaan dan kejahatan adalah azab siksa yang lebih buruk, karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka selalu memperolok-olok.” (QS. Rum, 30 : 9-10).

Sedikit ulasan berkenaan malapetaka yang berlaku di Jepun

Kejadian gempa bumi di darat dan di laut (Tsunami) yang sedang melanda Jepun sekarang serta New Zealand beberapa bulan yang lalu mungkinkah ianya gempa bumi yang akan berlaku sebagaimana sabdaan Nabi saw? Namun bila kita perhati dan amati maka berkemungkinan gempa bumi ini bersabit dari sabdaan Nabi saw yang berbunyi :

Dari Huzaifah bin Usaid ra bahawa Rasulullah saw telah bersabda , “Sesungguhnya kiamat tidak akan terjadi sehingga kamu melihat sepuluh tanda . . . . .” Kemudian baginda menyebut antara lain “dan tiga gempa bumi iaitu gempa di wilayah timur, di wilayah barat dan di Jazirah Arab.” (Shahih Muslim Syarah Nawawi 18:27 – 28)

Dari Ummu Salamah r.aha, ia berkata, aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “ Sesudahku nanti akan terjadi gempa bumi di Wilayah Timur, gempa bumi di wilayah Barat dan gempa bumi di Jazirah Arab.” Saya bertanya,” Wahai Rasulullah saw apakah bumi akan digempakan padahal di dalamnya masih ada orang-orang yang saleh?” baginda menjawab, “ Apakala penghuninya telah banyak melakukan keburukan.”
(Tabrani di dalam Ausath sebagaimana kata Al-Haitsami dalam Majmu’uz Zawaid 8:11. Beliau berkata sebahagian hadis ini tersebut didalam kitab Shahih. Dan hadis ini di dalam sanadnya terdapat Hakim bin Nafi’ yang dianggap kepercayaan oleh Ibnu Ma’in tetapi dilemahkan oleh yang lain . Sedangkan perawi-perawi yang lain kepercayaan.”)

Sesetengah ulama mengatakan kejadian ini telah pun berlaku namun sebahagian ulama mengatakan ianya belum berlaku lagi. Antara yang berkata demikian adalah Syeikh Asyarif Al-Barzanji, manakala Ibnu Hajar mengatakan, “Sesungguhnya telah dijumpai pelbagai gempa dan tanah runtuh di berbagai tempat, tetapi yang dimaksudkan dengan tiga gempa ini adalah lebih besar dan lebih luas wilayahnya daripada yang sudah terjadi itu.” (Fathul Bari 13:84)

Pendapat ulama yang sependapat dengan Ibnu Hajar ini diperkuatkan oleh hadis yang mengatakan bahawa ketiga gempa itu terjadi apabila kerosakan dan maksiat telah bermaharajalela di kalangan manusia.

Maka jika ianya betul maka kita tunggu gempa di Barat. Apakah Barat yang dimaksudkan adalah Eropah ataukah yang dimaksudkan adalah di sebelah barat dari arah bumi Mekah dan Madinah. Jika ini yang dimaksudkan maka berkemungkinan Barat dimaksudkan adalah di Benua Afrika.

Bila ini berlaku dan disokong pula oleh huruhara yang terjadi di beberapa Negara Arab sekarang ini seolah-olah menunjukan petanda yang kita hampir-hampir berada di era penghujung dunia. Di era kedatangan Mahdi, Dajjal, Nabi Isa a.s , Yajuj dan Makjuj dan lain-lain petanda akhir zaman.

Wallahualam. 
 
Posted on 12:59 PM by Kamarol Azli Bahari and filed under | 0 Comments »

RAWATAN AS SUNNAH

TERAPI URUTAN ISLAM

Blog Widget by LinkWithin